Rabu, 04 Januari 2017

Sang Pengirim Barang



Gio mendapat tugas dari sebuah organisasi yang bernama Alvater. Tugasnya adalah mengirim barang ke sebuah alamat. Barang itu berupa koper yang dikunci dengan kunci perpaduan angka. Di koper tersebut ada tanda tangan. Dia diberitahu bahwa banyak orang yang ingin mendapatkan barang tersebut. Saat dia bertanya barang apa di dalamnya, si pemberi tugas tidak menjawabnya. Gio diberi no ponsel orang yang akan menerimanya. Si penerima itu bernama Faisal.

Gio sendiri adalah seorang yang berprofesi sebagai pengantar, bisa orang bisa saja barang. Dia mengira tugas ini seperti tugas yang biasa dijalaninya. Dia biasa kerja sendirian. Terserah bagaimana caranya, barang itu harus bisa sampai ke orang yang berada di alamat yang dituju. Kali ini, barang harus sampai dalam 2 x 24 jam. Seperti biasa, dia akan menggunakan sepeda motor. Dia ingin lebih cepat karena dengan mobil baginya mengurangi kecepatannya.
Dia pun mulai berangkat dan melaju dengan kecepatan tinggi. Koper tersebut diikat di atas jog belakangnya. Tiba-tiba ada kumpulan sepeda motor yang menghadang jalannya. Gio pun berhenti. Salah seorang dari mereka bertanya, “Apa isi koper tersebut?” Orang itu lalu mengeluarkan pedang pendek.
“Saya tidak tahu.” kata Gio.
Saat si penghadang itu pun mendekati koper itu, Gio lalu berkata, “Jangan dekati itu!”
“Kamu mau melawanku?” kata si penghadang.
Gio dengan cepat mengeluarkan pistolnya dan menembak dada si penghadang. Dia lalu mengarahkan pistolnya ke para penghadang lain. Gio berkata, “Aku punya izin untuk pistol ini. Singkirkan sepeda motor kalian.”
Seorang dari para penghadang berkata, “Maaf aku harus menyelamatkan kawanku.”
“Buang dulu senjatamu dulu.” kata Gio, “Kalian semua, buang senjata kalian! Singkirkan juga motor kalian. Jika kalian membunuhku, kalian akan dikejar juga, itupun minimal salah satu dari kalian akan aku bunuh dengan pistol ini.”
Mereka pun membuang senjata-senjata mereka dan menyingkirkan motor-motor mereka. Gio pun langsung kembali ke sepeda motornya dan melaju jauh. Dia sudah terlatih menggunakan pistol. Dia berharap tidak ada gangguan lagi yang menghadapinya. Barang itu bukan hanya harus sampai ket tempat yang dituju, tetapi juga datang tepat waktu.
Gangguan pun datang lagi, ada pengendara motor berboncengan ke samping Gio yang menyuruh dia minggir. Sang pembonceng itu mengeluarkan senjata. Gio malas menghadapinya. Dia mengeluarkan pistol dan menembak si pengendara.
Setelah berkendara cukup lama, tibalah dia di alamat yang dituju. Dia menelepon calon penerima barang yaitu Faisal. Faisal lalu keluar rumah. Dia mengucapkan terima kasih dan membubuhkan tanda tangan sebagai penerima. Gio pun juga tidak menanyakan barang apa yang ada di dalam koper tersebut. Gio pun pulang dan misi sukses dijalankan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar