Gio mendapat
tugas dari sebuah organisasi yang bernama Alvater. Tugasnya adalah mengirim
barang ke sebuah alamat. Barang itu berupa koper yang dikunci dengan kunci
perpaduan angka. Di koper tersebut ada tanda tangan. Dia diberitahu bahwa
banyak orang yang ingin mendapatkan barang tersebut. Saat dia bertanya barang
apa di dalamnya, si pemberi tugas tidak menjawabnya. Gio diberi no ponsel orang
yang akan menerimanya. Si penerima itu bernama Faisal.
Gio sendiri
adalah seorang yang berprofesi sebagai pengantar, bisa orang bisa saja barang.
Dia mengira tugas ini seperti tugas yang biasa dijalaninya. Dia biasa kerja
sendirian. Terserah bagaimana caranya, barang itu harus bisa sampai ke orang
yang berada di alamat yang dituju. Kali ini, barang harus sampai dalam 2 x 24
jam. Seperti biasa, dia akan menggunakan sepeda motor. Dia ingin lebih cepat
karena dengan mobil baginya mengurangi kecepatannya.
Dia pun mulai
berangkat dan melaju dengan kecepatan tinggi. Koper tersebut diikat di atas jog
belakangnya. Tiba-tiba ada kumpulan sepeda motor yang menghadang jalannya. Gio
pun berhenti. Salah seorang dari mereka bertanya, “Apa isi koper tersebut?”
Orang itu lalu mengeluarkan pedang pendek.
“Saya tidak
tahu.” kata Gio.
Saat si
penghadang itu pun mendekati koper itu, Gio lalu berkata, “Jangan dekati itu!”
“Kamu mau
melawanku?” kata si penghadang.
Gio dengan
cepat mengeluarkan pistolnya dan menembak dada si penghadang. Dia lalu
mengarahkan pistolnya ke para penghadang lain. Gio berkata, “Aku punya izin untuk
pistol ini. Singkirkan sepeda motor kalian.”
Seorang dari
para penghadang berkata, “Maaf aku harus menyelamatkan kawanku.”
“Buang dulu
senjatamu dulu.” kata Gio, “Kalian semua, buang senjata kalian! Singkirkan juga
motor kalian. Jika kalian membunuhku, kalian akan dikejar juga, itupun minimal
salah satu dari kalian akan aku bunuh dengan pistol ini.”
Mereka pun
membuang senjata-senjata mereka dan menyingkirkan motor-motor mereka. Gio pun
langsung kembali ke sepeda motornya dan melaju jauh. Dia sudah terlatih
menggunakan pistol. Dia berharap tidak ada gangguan lagi yang menghadapinya.
Barang itu bukan hanya harus sampai ket tempat yang dituju, tetapi juga datang
tepat waktu.
Gangguan pun
datang lagi, ada pengendara motor berboncengan ke samping Gio yang menyuruh dia
minggir. Sang pembonceng itu mengeluarkan senjata. Gio malas menghadapinya. Dia
mengeluarkan pistol dan menembak si pengendara.
Setelah
berkendara cukup lama, tibalah dia di alamat yang dituju. Dia menelepon calon
penerima barang yaitu Faisal. Faisal lalu keluar rumah. Dia mengucapkan terima
kasih dan membubuhkan tanda tangan sebagai penerima. Gio pun juga tidak
menanyakan barang apa yang ada di dalam koper tersebut. Gio pun pulang dan misi
sukses dijalankan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar