Perekonomian
dunia menurun dan itu berdampak pula pada salah satu perusahaan furniture.
Salah satu perusahaan furniture tersebut adalah Hexam. Hexam juga memiliki
banyak hutang. Seorang yang kaya datang ke perusahaan tersebut. Dia mendapat
kabar Hexam akan jatuh. Dia datang melihat-lihat perusahaan tersebut. Hexam
menurutnya bukan perusahaan yang besat tapi perusahaan menengah. Akan tetapi
perusahaan tersebut memiliki potensi yang bagus. Orang itu biasa dipanggil Pak
Udin.
Pak Udin pun
membeli seluruh saham perusahaan tersebut dan membayar utang perusahaan. Pak
Ferry, pemilik sekaligus CEO sebelumnya, menyetujui tawaran Pak Udin. CEO pun
dia ganti. Penggantinya adalah Pak Martono. Pak Udin dikenal dengan
kemampuannya membangkitkan perusahaan yang hampir bangkrut. Sebenarnya, jika
dia gagal membangkitkan Hexam, hal itu bukan masalah besar baginya. Makanya dia
tidak terlalu berpikir panjang. Dia punya banyak perusahaan yang keuangannya
sangat baik yang tentunya menghasilkan banyak uang baginya. Hal itu tidak lepas
dari perannya. Setiap dia membangkitkan perusahaan dia sikapnya santai tetapi
serius. Dia tidak ingin gagal karena baginya itu bisa merusak namanya dan dia
tidak mau karyawan yang baik kehilangan pekerjaan karena perusahaannya bangkrut.
Dia tidak mau
menjadi CEO karena dia tidak bisa fokus di perusahaan tersebut mengingat
banyaknya perusahaan yang dimilikinya. Dengan izin Pak Udin, Pak Martono
melakukan perampingan perusahaan dan akan menggantinya dengan karyawan yang
lebih bagus. Bukan kemampuan yang diutamakan, bagi Pak Martono dan Pak Udin
kemampuan dan sikap dianggap sama pentingnya. Untuk melakukan perampingan, Pak
Udin menyuruh Pak Martono menggunakan jasa AVN Complex, perusahaan yang biasa
melakukan perbaikan pada perusahaan terutama dalam menilai perusahaan. Walau
biaya jasa perusahaan AVN Complex terbilang mahal, Pak Martono dan Pak Udin hal
itu senilai dengan apa yang telah dikeluarkan. Setelah tiga bulan pengelolaan,
jumlah yang dipecat mencapai sepertiga jumlah karyawan perusahaan. Mereka
diberi tiga bulan gaji. Karyawan yang tersisa tidak mengalami pengurangan gaji.
Setelah tiga
bulan perbaikan, Pak Udin menyatakan keinginannya yaitu menjual produk ke luar
negeri dengan bantuan website dan menambah perancang furniture. Dia tidak
membeli produk website ke software house, dia mencari 2 programmer dengan
kemampuan membuat website dengan kemampuan membangun multilanguage website dan 1 web designer. Setelah mendapat
perancang furniture, dia pun membawa keduanya ke Amerika Serikat untuk melihat
pameran furniture. Dia yakin jika mempunyai produk yang unik, walaupun krisis
keuangan pun, produknya tetap akan laris. Itulah hal yang difokuskan Pak Udin,
sedangkan detail-detail lain ditangani Pak Martono.
Hexam pun
mendapat mendapatkan 3 orang untuk mengisi tim website. Pak Udin ingin
websitenya dibangun dengan framework. Pak Udin sedikit tahu tentang dunia
website. Dia ingin program tersebut bisa lebih mudah diteruskan programmer
lain, jika ada programmer yang pergi.
Mereka pun bekerja
keras untuk membangkitkan perusahaan mereka, Hexam. Penjualan mereka juga lewat
e-commerce yang menjual produk-produk
perusahaan-perusahaan lain. Karyawan bukan fokus tidak dipecat, tetapi lebih
dari itu, fokus menaikkan kemampuan dan jasa mereka untuk perusahaan. Website
yang diinginkan Pak Udin pun jadi dalam satu tahun sudah jadi. Memang anggota
tim website yang didapat Hexam adalah orang yang jagoan website. Selain itu
banyak design furniture unik yang diciptakan tim designer. Dengan arahan Pak
Udin, promosi selain dengan SEO, dilakukan dengan promosi lewat jasa
pengiklanan lewat Facebook yang memiliki data umur setiap usernya dan Google
Adsense yang sebagian besar orang mencari info lewat google.
Setengah tahun
setelah website diluncurkan, Hexam memperoleh keuntungan yang banyak sesuai
dengan visi Pak Udin, bukan harga murah saja untuk merajai pasar tetapi dengan keunikan
dan kualitas produk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar